Tarbawi : Iktibar Dari Hud-Hud

By:Yussaine yahya

Hud-hud, si burung kecil yang menjadi salah satu bala tentera Nabi Sulaiman, berinisiatif terbang ke negeri Saba’, tanpa perintah Sulaiman. Selaku pemimpin, Sulaiman tentu gusar atas pemergian Hud-hud yang tidak diketahuinya. Baginda bahkan akan memberikan hukuman keras ke atas Hud-hud kerana sikapnya itu. Sulaiman kemudian berusaha bertanyakan ke mana gerangan Hud-hud pergi.

Tidak lama, Hud-hud muncul. Sebagai pemimpin, Sulaiman melakukan pemeriksaan (mutaba’ah), ke mana ia tidak nampak sejak tadi. Tapi Hud-hud bukan jenis sebarangan perajurit, apatah lagi suka mensia-siakan amanah. Hud-hud mungkin malah sudah bersedia dengan segala alasan syar’i, alasan struktur (tandzimi), dan alasan konsepsi (minhaji). Secara syar’i, inisiatifnya untuk pergi meninggalkan Sulaiman sang komandan bukan untuk urusan maksiat. Secara struktur (tandzimi), ia mengamalkan sikap perajurit yang kreatif, mencari hal-hal yang bermanfaat bagi Sulaiman. Sedang secara minhaji, ia telah melakukan pengamatan tentang tingkah laku ratu Saba’ dan kaumnya yang bertentangan dengan misi aqidah Sulaiman.

Hud-hud memang perajurit yang cerdas. Ia sangat mengerti akan misinya menyebarkan dakwah tauhid kepada seluruh penduduk bumi. Bermula dari inisiatif Hud-hud itu, kemudian berlakulah peristiwa besar. Ratu Saba’ tunduk dan mengikuti agama tauhid Sulaiman. Hud-hud telah melakukan tugas dengan baik, serius dan keberaniannya menanggung risiko.

Tiga perkara yang dapat dipetik daripada sikap Hud-hud iaitu pertama, seorang da’i harus memiliki inisiatif dan kreativiti dengan menimbang kemaslahatan yang ada. Tidak ada yang harus merasa kecil, kerana Hud-hud pun seekor burung yang kecil. Selama tidak keluar dari koridor misi dakwah yang telah ditimbang risikonya, seorang da’i tetap dituntut melakukan inisiatif dan kreativiti, namun perlu dalam ruang lingkungan amal jamaie.

Kedua, seorang pimpinan, meski berwawasan luas, harus sedar bahawa tidak semua persoalan diketahui dengan baik. Sulaiman adalah nabi yang dikurniakan Allah mampu memahami bahasa haiwan dan jin, tapi jelas baginda tidak mengetahui keberadaan negeri Saba’ yang masih tenggelam dalam syirik kepada Allah.

Ketiga, sepintas yang dilakukan Hud-hud adalah pekerjaan yang kecil, hanya menyaksikan sekelompok kaum yang menyembah matahari. Tapi Hud-hud memiliki sudut pandang yang tajam. Ia mampu memandang fenomena itu dari sudut pandang lain. Hud-hud menyampaikan informasi yang diperolehnya dengan baik, tidak dibantah, dan meyakinkan kepada Nabi Sulaiman hingga akhirnya menyebabkan Ratu Saba’ beriman.

Begitulah seharusnya seorang da’i. Boleh jadi, orang memandang suatu peristiwa biasa-biasa saja. Namun, seorang da’i harus mampu menilai fenomena itu dari sisi yang berbeza terkait dengan misi dakwah yang diembannya.

——————————-

1 Comment »

  1. faisal Said:

    Luar biasa….


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: